puri-lukisan-painting

Perlu kita ketahui bahwa tidak ada daerah tropik yang mengalami pertumbuhan pertanian perkebunan secepat atau mencapai kemakmuran sesubur Sumatra Timur. Begitu diketahui betapa besar nilai tembakau gulung yang ditanam di tanah Deli, maka pengusaha onderneming mulai mencari keuntungan tanpa mempedulikan kesejahteraan rakyat mereka. Karena tembakau adalah tanaman panenan tahunan, maka menjadi mungkin mengkombinasikan dalam satu sistem yaitu penanaman tembakau berhuma dengan penanaman padi dan jagung.

Di dorong oleh kekecewaan mereka, sebenarnya sumber utama dari ketidakpuasan mereka adalah jumlah lahan yang tidak cukup tersedia bagi penduduk desa itu. Penduduk merasa dirugikan dengan adanya pembatasan-pembatasan lahan sekaligus pembatasan jenis tanaman yang akan ditanam.

Pada akhir tahun 1880-an dan awal 1890-an, dua kemajuan penting terjadi. Yang pertama, berkaitan dengan panen tembakau. Meskipun sudah merupakan kebiasaan orang Batak untuk memetik hanya dua daun matang dari satu batang tembakau pada satu waktu, para pengusaha onderneming Eropa memetik semua daun sekaligus. Ini berarti bahwa daun-daun yang dipetik itu berada pada berbagai tahap proses pematangan. Panen secara bertahap lebih banyak membutuhkan tenaga kerja tetapi meningkatkan mutu produk akhir.Penemuan baru kedua yang bahkan lebih penting dari yang pertama adalah membaliknya pikiran yang selama ini menguasai para pengusaha onderneming itu. Mereka sebelumnya selalu menduga bahwa tanah-tanah Sumatra Timur dapat menghasilkan hanya satu kali panen tembakau gulung yang baik. Tetapi percobaan-percobaan sekarang membuktikan bahwa lahan yang telah dibiarkan kosong selama waktu delapan sampai sepuluh tahun atau bahkan lebih lama, ternyata mampu menghasilkan mutu tembakau gulung pilihan berwarna muda. Penemuan ini memantapkan industri tembakau, menghilangkan semua keraguan terhadap hari depannya.

Para pengusaha onderneming yang pertama percaya bahwa tanah-tanah Sumatra Timur hanya mampu menghasilkan panen tembakau satu kali saja. Lahan yang sudah pernah digunakan untuk produksi temabakau tidak akan laku jika dijual dengan harga rendah sekalipun. Pada akhir tahun 1880, ditemukan sebuah percobaan yang memperlihatkan bahwa tembakau gulung dengan mutu yang baik dapat dihasilkan di atas lahan kosong yang pernah ditumbuhi alang-alang, bahkan tembakau bermutu tinggi juga bisa hasilkan diatas lahan yang sudah dibiarkan kosong kurang lebih 12 tahun. Para pengusaha onderneming melakukan reboisasi lahan-lahan tembakau yang lama kemudian akan mengubah seluruh pola tanah pertanian Sumatera Timur yang terlibat dalam penanaman tembakau itu.

Persiapan lahan dimulai dari penebangan pohon-pohon buah seperti durian, aren, kayu, gelugur, dan pohon lebah. Dikarenakan upah buruh yang tinggi, persiapan lahan dilakukan menggunakan traktor-penarik bajak dan sisir-tanah. Karena tembakau memerlukan lahan yang kering, maka di tanah-tanah rendah bagi perkebunan menggali jaringan saluran-saluran pembungan air kebun untuk mengalir ke sungai-sungai utama. Selain itu juga pembangunan tanggul dilakukan untuk melindungi lahan tembakau terhadap banjir-banjir sungai.

Sementara persiapan lahan masih berjalan, tempat-tempat pembibitan telah dipersiapkan dan bibit tembakau yang telah disemaikan dalam tanah selang-seling beberapa hari, supaya sesuai dengan waktu pada saat bibit-bibit yang sudah tumbuh dipindahkan dan ditanam kembali. Masa tanam bibit diulur sampai dua bulan. Pemindahan bibit-bibit dari tempat-tempat persemaian ke kebun tanah rendah berlangsung setelah 40 sampai 50 hari, dan setelah 45 sampai 55 hari di perkebunan tanah tinggi yang suhunya di malam hari sangat rendah.

Sementara bibit berada di tempat-tempat persemaian, dan kemudian dipindahkan ke kebun. Setiap buruh dipertanggungjawabkan sebidang kebun untuk dipekerjakan sendiri. Ia bertanggung jawab penuh untuk 16.000 tanaman. Disini daun-daun itu dihitung oleh asisten kebun yang memasukkannya ke dalam buku perkiraannya.  Setelah selesai, buruh itu benar-benar bebas dari tanggung jawabnya terhadap daun-daun tembakau itu. Kemudian daun-daun tersebut khusus menjadi urusan pihak onderneming.

Sistem pemetikan yang dahulu dilakukan sekaligus terhadap semua daun, kemudian diubah secara berangsur. Dengan metode ini diperoleh keuntungan dalam jumlah daunnya. Sesudah daun-daun itu kering secukupnya lalu diangkut dari gudang-gudang kebun ke gudang-gudang peragian di amplasemen. Tembakau yang sudah diragi kemudian disortir dan diklasifikasi menurut mutunya dalam gedung-gedung khusus yang baik penerangannya. Pekerjaan ini memerlukan keterampilan tinggi yang mampu mengenal 12 jenis mutu yang berbeda-neda.

Segera sesudah tanaman tembakau dipanen, lahan itu kemudian siap untuk digunakan oleh orang-orang kampung yang telah memperoleh hak-hak agraria. Sebelum Perang Dunia II, keturunan Melayu atau Batak garis lelaki dari sesorang yang mempunyai hak-hak agrarian diberikan jaluran yang telah menjadi hak mereka. Mereka diperingatkan bahwa mereka tidak diizinkan mencabut pohon-pohon kecil, juga tidak boleh mencampuri sistem saluran air yang ada, atau menanami lahan dengan apapun selain padi ladang kering.

Sementara jaluran sedang digunakan oleh para petani setempat, mulailah tumbuh-tumbuhan sekunder menutupi lahan. Di ladang padi, tetap tumbuh pohon-pohon kecil dan pohon-pohon muda yang mengambil alih lahan itu sesudah padi itu dipanen. Lahan itu kemudian dibiarkan kosong selama suatu masa tidak kurang dari tujuh tahun. Akan tetapi, lama sebelum proses seperti itu dapat berlangsung, lahan itu sudah dibuka lagi untuk proses dua macam panen. Panen tembakau oleh onderneming dan panen padi oleh petani penduduk setempat.

Dalam pola ini sebagaimana ia berkembang setelah kira-kira tahun 1890, pihak pengusaha ondermeninglah yang seluruhnya menguasai lahan. Dia yang menentukan cara penggunaan dan jumlah penggunaan, jenis panenan yang akan ditanam, dan caranya harus menanam. Meskipun seorang petani menghendakinya, ia tidak akan diijinkan untuk mengalihkan lahan tembakau menjadi persawahan air. Petani terpaksa menanam panen pangannya dengan jarak yang jauh dari kampungnya, ini berarti penyiksaan bagi para petani jika ladang itu memerlukan perawatan yang lebih.

Lahan satu-satunya yang sepenuhnya berada di bawah hak penguasaan petani adalah lahannya sendiri di lingkungan kampungnya, tetapi di bawah hukum waris yang berlaku, tanah-tanah kampung itu selama puluhan tahun telah dibagi-bagi berulangkali, sehinga bidang-bidang tanah itu telah menjadi sangat kecil. Ini adalah sebuah petunjuk bahwa perkembangan tekanan penduduk yang semakin bertambah di lingkungan kampung-kampungnya.

Sebenarnya orang Batak Karo juga ingin menanam tembakau sendiri seperti halnya yang dilakukan oleh petani tembakau asli Deli. Larangan ini dilakukan karena ditakutkan adanya bahaya penyebaran penyakit tembakau dari ladang-ladang petani yang tak terawat ke perkebunan onderneming-onderneming. Selain itu juga ditakutkan adanya pencurian apabila industri petani diizinkan hidup berdampingan dengan industry perkebunan.

Masalah pencurian tembakau sebenarnya dimulai sekitar tahun 1880-an ketika Medan dan Binjai telah mempunyai beberapa pabrik cerutu yang membeli tembakau gulung. Karena itu, Persatuan Pengusaha Perkebunan Deli dalam tahun 1893, melarang anggota-anggotanya menjual atau menyerahkan temabakau apapun untuk penggunaan setempat. Pada tahun 1898, Persatuan itu juga melarang penjualan tembakau ke tempat-tempat Malaya dan ke daratan Cina. Semua tembakau harus dikirim ke negeri Belanda. Hal ini menunjukkan bahwa Cina tidak akan menjual tembakau lagi.

Para penguasaha tembakau yang membuka kembali lahannya biasanya mengalihkan panennya dari tanaman tembakau ke jenis tanaman keras. Akan tetapi, harus disebutkan bahwa tidak semua onderneming tembakau dapat dialihkan ke jenis tanaman keras.

Percobaan penanaman karet telah dilaksanakan awal tahun 1885 di onderneming tembakau di daerah Mariendal dekat Medan dan Rimbun. Pada tahun 1899 di bagian selatan Sumatera Timur, perusahaan Swis melakukan percobaan dengan menanamkan 10.000 pohon. Pada tahun 1901 di Serdang para pengusaha onderneming juga melakukan percobaan penanaman karet tetapi gagal.

Dapat dilihat bahwa pada tahun 18899 sampai dengan tahun 1901 hanya terlihat proyek-proyek percobaan, sedangkan produksi karet yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1906. Dari proyek-proyek percobaan itu, menunjukkan bahwa tanah dan iklim Sumatra Timur cocok untuk tanaman karet.

Industri karet berkembang karena prakarsa petani Indonesia dan pedagang Cina. Singapura berpengaruh banyak dalam perkembangan karet rakyat ini. Hal ini dikarenakan karena banyaknya orang-orang Islam Sumatra Timur dan Sumatra Selatan, yang singgah di Singapura dalam perjalanan mereka ke Mekah, menjadi tertarik pada karet di Semenanjung Malaya dan membawa bibit-bibit karet itu ketika pulang kembali ke Sumatra.

Pada pertengahan tahun 1920-an pemerintah Hindia Belanda dan para pengusaha onderneming mulai mengatur industri karet dengan mendirikan Badan Rencana Pembatasan Karet Internasional yang pastinya sangat merugikan bagi para petani karet.

Teh pertama kali ditanam di sebidang tanah percobaan di onderneming Rimbun di Deli Hulu pada tahun 1898, tetapi proyek tersebut gagal dan tidak diteruskan. Seorang pengusaha onderneming Swis, A. Ris telah membuktikan penanaman teh di Sumatra Timur. Kemudian Jerman dan Inggris mengembangkan onderneming-onderneming teh di sekeliling Pemantang Siantar.

Pada tahun yang sama ketika tanaman teh menjadi tanaman penghasilan baru bagi  onderneming, percobaan dilakukan oleh pengusaha dari Jerman, K.Schadt yang menanam kelapa sawit di lahan tanah bekas tembakau.

Advertisements