KH-Ahmad-Dahlan

Tiga dasawarsa pertama abad ke-20 bukan hanya menjadi saksi penentuan wilayah Indonesia yang baru. Masalah-masalah dalam masyarakat Indonesia juga mengalami masalah yang begitu besar sehingga dalam masalah-masalah politik, budaya, dan agama rakyat Indonesia menempuh jalan baru. Dalam hal gerakan-gerakan anti penjajahan dan pembaharuan wilayah Jawa dan Minangkabau menarik perhatian tersendiri. Ketika raja-raja Bali dan ulama Aceh berupaya melawan penjajahan dan mempertahankan tatanan yang lama, maka masyarakat Jawa dan Minangkabau justru meletakan tatanan baru di dalam masyarakat. Kunci perkembangan pada masa ini adalah munculnya ide-ide baru mengenai organisasi dan dikenalnya definisi-definisi baru dan lebih canggih tentang identitas. Ide-ide baru tentang organisasi meliputi bentuk-bentuk kepemimpinan yang baru, sedangkan defininisi yang baru dan lebih canggih mengenai identitas meliputi analisis yang lebih mendalam tentang lingkungan agama, sosial, politik, dan ekonomi.

Memasuki periode ini telah ditandai dengan munculnya berbagai organisasi. Budi Utomo (1908) yang muncul sebagai organisasi priyayi yang bergerak di bidang pendidikan para aristokrat, Sarekat Dagang Islamiyah (1909) didirikan oleh Tirtoadisurjo ditujukan untuk membantu pedagang-pedagang Indonesia dalam menghadapi persaingan dengan pedagang Tionghoa, yang kemudian oleh Haji Samanhudi didirikan SDI (1911) di Surakarta dalam rangka sebagai koperasi pedagang batik anti Cina. Ada pula yang bergerak di bidang politik, Indische Partij (1911), sebuah organisasi yang memaklumkan nasionalisme Hindia dan menuntut kemerdekaan sehingga pemerintah Hindia Belanda memusuhinya.

Suatu tanda yang bahkan lebih mencolok bahwa suatu zaman baru sedang menyingsing ialah lahirnya gerakan pembaharuan Islam. Latar belakang dari pembaharuan ini harus dicari di Indonesia maupun di timur tengah. Islam di Indonesia memang terkenal dengan keanekaragamannya, mayoritas umat muslim Indonesia menganut mahzab Syafi’i. Ada juga masyarakat Indonesia yang menganut paham mistik sufi ; tarekat-tarekat Syattariyah, Qadiriyah, dan Naqsyabandiyah. Akan tetapi di balik keanekaragaman ini terdapat berbagai perbedaan kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam dan ketidaktahuan. Seperti halnya di semua tempat di mana terdapat salah satu agama terbesar dunia, Islamdi Indonesia telah telah dipengaruhi oleh banyak adat dan ide-ide lokal. Oleh karena itulah, dengan memperhatikan semua yang ada di sekeliling mereka, maka orang-orang muslim terpelajar Indonesia melihat adanya kebutuhan yang sangat besar untuk pembaharuan; perasaaan mereka ini diperkuat oleh dominasi Bangsa Belanda, yang menurut mereka dimungkinkan karena mundurnya Islam.

Beberapa ulama timur tengah sudah berkesimpulan yang sama pada abad ke-19. Jamal ad-Din Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, dan Muhammad Abduh menciptakan suatu pembaharuan yang dikenal dengan Modernisme Islam (IslamModern) yang berpusat di Mesir tepatnya di Kairo. Gerakan ini mempunyai beberapa tujuan, di satu pihak ingin mengembalikan keortodoksan Islam dan menolak keempat mahzab sebagai doktrin abad pertengahan. Keempat mahzab Sunni itu muncul melalui proses ijtihad (pemikiran) yang dilakukan oleh para ulama terpelajar; Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi, yang telah mencapai pada ijma’ (kesepakatan) mengenai penafsiran terhadap sumber-sumber agama. Para ulama Sunni berpendapat bahwa tak seorang muslim pun cukup belajar untuk menjadi mujtahid baru, yaitu seorang yang mampu mencapai pada penafsiran syari’at yang baru. Sedangkan sebaliknya para ulama modern justru beranggapan bahwa ijma’ tidak dapat menutup bab al-ijtihad (pintu gerbang pemikiran), dan bahwa keadaan-keadaan yang baru menuntut dilakukannya penelitian ulang terhadap kebenaran-kebenaran Qur’an dan Hadist yang abadi. Islam harus dimurnikan dari segala pembaharuan yang tidak sah (bid’a) yang selama berabad-abad telah merassukinya.

Pada pihak lain gerakan pembaharuan agama ini menuntut bahwa dalamijtihad yang baru harus memanfaatkan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan modern yang, menurut keyakinan kaum modernis, dapat dipadukan dengan Islam yang murni untuk mengangkat peradaban Islam keluar dari zaman kebodohan, ketakhyulan, dan kemunduran seperti yang mereka rasakan. Sehingga dapat disimpulkan tujuan pertama dari gerakan Modern Islam ini adalah berdasarkan sumber-sumber suci,bersifat fundamentalis, dan semangat kemurnian.sedangakan tujuan kedua ialah apa yang menjadi dasar kebenaran istilah modernisme (Ricklefs, 1991: 256).

Minangkabau merupakan pintu gerbang dari pembaharuan Islam di Indonesia. Orang-orang dari Minangkabau memainkan peranan penting dalam pembaharuan tersebut, seperti halnya Syaikh Tahir Jalalludin Al-Azhari yang menjadi tokoh majalah Islam Modern Al-Imam (sang pemimpin) di Singapura, ia telah berguru di Kairo dimana ia dipengaruhi oleh ide-ide Muhammad Abduh dan menjadi sahabat karib Rasyid Rida. Sepupunya, juga seorang Minangkabau, Syaikh Ahmad Khatib menjadi Imam bermahzab Syafi’i di Masjidil Haram di tanah Makkah juga mendukung adanya pembaharuan dalam Islam dan mencela paham sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia.

Kaum Islam Modern di Indonesia telah memiliki beragam pendapat mengenai paham sufi; beberapa adayang bersedia membiarkan paham tersebut sebagai cara hidup yang saleh, sedangakan yang lain mencurigai paham itu sebagai sesuatu yang melebih-lebihkan Islam (Zuhud yang berlebihan), dan yang lain lagi sepenuhnya memusuhi paham sufi karena di anggap sebagai tempat berlindungnya ilmu klenik. Syaikh Ahmad Khatib tentunya mendukung aliran Syafi’i, tetapi memperkenankan murid-muridnya membaca buku Islam Modern. Banyak murid-murid Syaikh Ahmad Khatib yang menjadi tokoh-tokoh pemimpin pembaharuan Islam di Indonesia, diantaranya yang terkemuka adalah Syaikh Muhammad Djamil Djambek dan Haji Rasul (Syaikh Abdul Karim Amrullah) dari Minangkabau dan Kiai Haji Ahmad Dahlan dari Yogyakarta.

Keberadaan umat Islam masyarakat Jawa, Yogyakarta khususnya, yang diliputi oleh ketradisionalan menjadi perhatian tersendiri dalam pemikiran K. H. Ahmad Dahlan untuk melakukan sebuah pembaharuan dengan semangat kemurnian. K. H. Ahmad Dahlan merasa berkewajiban untuk memperbaiki dan memajukan umat Islam yang menurutnya dengan ketradisionalan tersebut membuat sulit bagi umat untuk maju. Para ulama Islam Modern pada masa yang bersamaan juga mempunyai pemikiran bahwa dominasi bangsa Belanda ketika itu juga disebabkan karena kemerosotan dan ketertinggalan umat Islam. Selain dari itu gerakan kristenisasi yang marak terjadi pada kalangan aristokrat di Yogyakarta yang dilakukan oleh Belanda juga menjadi perhatian khusus gerakan K. H. Ahmad Dahlan.

Pemuda merupakan kelompok yang menjadi prioritas dari gerakan pembaharuan yang dilakukan K. H. Ahmad Dahlan, karena pemuda di masa yang akan datang akan menduduki posisi penting dalam konstelasi masyarakat. Sikap konservatif para ulama Syafi’i yang ada menjadikan berbagai macam bentuk aliran pemikiran pembaruan agama menjadi pertentangan hebat sehingga peran pemuda menjadi lebih menonjol dalam setiap gerakan pembaharuan. Salah satu pandangan K. H. Ahmad Dahlan yang menjadi pertentangan hebat di kalangan para ulama adalah mengenai arah kiblat yang condong ke arah barat laut, pandangan tersebut didasari atas ilmu falaq, namun segala pembaharuan seringkali dianggap identik dengan pengetahuan yang bersumber dari barat yang pada masanya para kiai memandang hal tersebut merupakan penyesatan dari orang-orang kafir.

Ketika secara umum masyarakat Jawa ketika itu memandang haram seorang muslim bergaul dengan Belanda, mereka yang beragama Nasrani, K. H. Ahmad Dahlan justru mendirikan rumah sakit dan bekerjasama dengan dokter-dokter Belanda yang bekerja secara sukarela. Kesediaan para dokter Belanda bekerja di rumah sakit Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) Muhammadiyah tanpa di bayar seringkali dipandang oleh masyarakat umum sebagai bagian dari kebijakan politik kolonial. Namun juga terdapat banyak pemahaman lain mengenai keterlibatan para dokter Belanda dalam kegiatan harian PKU Muhammadiyah, yang didasari komitmen kemanusiaan dokter Belanda ketika kegiatan kesehatan yang dilakukan K. H. Ahmad Dahlan itu diperuntukan bagi kaum duafa dan proletar secara cuma-Cuma. Nilai profetik kemanusiaan menjadi titik temu pandangan antara akksi sosial K. H. Ahmad Dahlan dan para dokter berkebangsaan Belanda tersebut.

Seorang dokter dari kalangan aristokrat Jawa, Dr. Soetomo, juga terkesan dengan titik temu tersebut sebagai wujud dari kemanusiaan K. H. Ahmad Dahlan yang didasariatas ke-Welas asih-an. Dr. Soetomo selanjutnya memandang nilai dasar yang ia sebut “welas asih” tersebut merupakan kekuatan yang menggerakan seseorang melakukan tindakan sosial membela sesama yang dapat menandingi teori Darwinisme yang mengandalkan kekuatan persaingan.

Rasioanalisasi fungsional yang melahirkan etika welas asih tersebut dapat disebut sebagai paradigma pembaharuan K. H. Ahmad Dahlan dalam merealisasikan ajaran Islam yang ia dipahami dalam praktik kehidupan sosial. Rasionalisasi diserap dari pemikiran Islam abad ke-19, fungsional-pragmatis dari pembacaan pengalaman elite priyayi (sebutan bagi aristokrat Jawa) dan bangsa Eropa yang diperoleh dari pergaulan dari kapasitas sebagai abdi dalem keraton. Serapan dari luar itu, memperoleh ruang dalam kritik keras Surat Al-Ma’un pada praktik ibadah tapi mengabaikan kepedulian dan pemberdayaan anak yatim dan fakir miskin.

Sulit diketemukan kitab tafsir yang memberi penjelasan maksud dari Surat Al-Maun seperti pemahaman K. H. Ahmad Dahlan yang terbaca dari berbagai aksi sosial. Tafsir K. H. Ahmad Dahlan atas Surat Al-Maun itu mendasari karya amalnya berupa rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, rumah miskin, dan berbagai aksi sosial yang semuanya diperuntukan bagi kaum duafa. Tafsirnya atas surat itu mewarnai berbagai aksi pembebasan fakir miskin dan anak yatim yang populer di kalangan kaum Marxis dengan istilah proletar, sehingga berkembang semacam legenda Al-Ma’un dikalangan aktivis Muhammadiyah.

Meski pembaharuan K. H. Ahmad Dahlan sering di kaitkan dengan pelurusan kiblat Masjid Besar Kauman Yogyakarta berdasarkan ilmu falaq, tapi gagasan dan etos gerakan K. H. Ahmad Dahlan yang  jauh lebih besar ialah sikap terbukanya menyerap puncak-puncak peradaban tanpa memandang bangsa dan agama pengemban peradaban itu. Berbagai aksi sosial yang dikembangkan K. H. Ahmad Dahlan banyak terinspirasi pengalaman orang-orang asing Kristiani dan warga Belanda. Dalam pengelolaan Panti asuhan yatim-piatu, panti jompo, dan rumah miskin, rumah sakit, dan sekolah modern merupakan karya yang terinspirasi dari praktik pengelolaan kehidupan sosial bangsa Eropa.

Pada tahun 1909 K. H. Ahmad Dahlan sempat masuk ke organisasi Boedi Oetomo dengan harapan dapat berkhotbah mengenai pembaharuan di kalangan para anggotanya. Namun para pendukung K. H. Ahmad Dahlan mendesak agar ia mendirikan organisasinya sendiri yang dapat dijadikan sebagai sarana dakwah dan perjuangan sosial yang bernuansa Islami. Sehingga pada tahun 1912 berdirilah Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharuan Islam di Yogyakarta. Muhammadiyah mencurakan kegiatannya pada usaha-usaha pendiikan serta kesejahteraan dan dalam program dakwah guna melawan agama Kristen dan ketakhyulan-ketakhyulan lokal.

Pendirian K. H. Ahmad Dahlan mengenai pentingnya organisasi bagi pelaksanaan dakwah amal ma’ruf nahi munkar memang mutlak. Meskipun dalam hal ini organisasi hanya merupakan sarana, bukan tujuan, tetapi sarana yang mutlak perlu guna mencapai tujuan. Tidak ada tujuan yang tidak dapat dicapai tanpa sarana, bahkan saranapun banyak yang tidak sesuai dengan dengan tujuan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh karena sarana tersebut tidak tepat atau kurang sesuai dengan kemajuan jaman. Dakwah amal ma’ruf nahi munkar secara perseorangan massih tetap harus dipertahankan, namun disamping itu juga harus ada sarana lain yang lebih maju dan lebih teratur dengan bekerjasama serta sesuai dengan kemajuan dan perkembangan jaman.

Dalam pergerakan Muhammadiyah K. H. Ahmad Dahlan selalu berpegang teguh pada pemikiran, kecerdasan bicara dan bekerja, berpikir dengan akal yang cerdas dan pengetahuan luas dan berpedoman pada Al-Quran dan Hadist. Berbicara dengan tegas dan sopan untuk menyampaikan dakwah Islam, bekerja untuk kemuliaan agama dan kemakmuran rakyat.

Pada mulanya Muhammadiyyah berkembang secara lamban. Organisasi ini di tentang dan diabaikan oleh para pejabat, guru-guru Islam gaya lama di desa-desa, hierarki-hierarki keagamaan yang dilakui pemerintah, dan oleh komunitas-komunitas orang shaleh yang menolak ide-ide Islam Modern. Dalam rangka upaya-upaya pemurniannya organisasi ini mengecam banyak kebiasaan yang telah diyakini oleh orang-orang shaleh Jawa berabad-abad sebagai Islam yang sebenarnya. Dengan demikian, maka pada masa awal-awalnya Muhammadiyah menimbulkan banyak permusuhan dan kebencian di dalam komunitas agama Jawa.

Advertisements