cropped-cropped-cropped-dsc_0261_2053_201301231527462.jpg

Manusia adalah makluk berpengetahuan. Untuk menyatakan pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastisan dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-dunya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah mampu manusia untuk menjangkau.

bagaimana dari keinginan akan mengerti, akan kebenaran, timbul ilmu-ilmu pengetahuan, dan akhirnya muncullah filsafat. Filsafat itu timbul dari setiap orang, asal saja orang itu hidup sadar dan menggunakan pikirannya. Filsafat adalah bentuk ilmu pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahun manusia yang sempurna, yang merupakan perkembangan yang terakhir dari pengetahuan luar biasa. Filsafat dapat dipandang dalam dua segi, filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Filsafat sebagai ilmu yang tersendiri itu tidak niscaya adanya; hal itu meminta tingkatan kebudayaan yang agak tinggi. Sebaliknya, menyangkut filsafat dalam arti yang lebih luas, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia, hal itu dapat dikatakan tentu ada, biarpun sedikit.

Pada masyarakat yang tingkat kebudayaannya belum berkembang, dapat dijumpai pikiran-pikiran tentang sebab-akibat, pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup, tentang perbuatan-perbuatan manusia atau etika, dan lain-lain. Filsafat adalah eksistensial sifatnya, erat hubungannya dengan hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari memberikan bahan-bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasarkan dan berpangkalan pada manusia yang konkrit pada diri manusia yang hidup di dunia dengan segala persoalan yang dihadapi. Dengan demikian, filsafat adalah pernyataan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang, maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi semua manusia.

Hakikat kehidupan selalu menjadi refleksi bagi orang Jawa, sebagaimana ungkapan sumusup ing rasa jati, menyelam dalam esensi kebenaran. Tujuan orang Jawa melakukan refleksi kefilsafatan adalah untuk mengetahui sangkan paraning dumadi, yaitu asal mula dan akhir kehidupan. Dalam kitab Jawa Klasik, kerap diulas secara sistematis mengenai berpikir yang mengarah kepada orientasi manunggaling kawula gusti, dengan harapan diperolehnya suasana tentram lahir batin. Kitab Negara Kertagama, Wulangreh, Wedhatama dan Sabda Jati merupakan wahana orang Jawa untuk menuangkan pemikiran kefilsafatan. Manusia di dunia selalu dihinggapi rasa keingintahuan. Suriasumantri (2003:19-20)

Dalam struktur tata kefilsafatan Jawa dikenal istilah cipta rasa karsa. Cipta merujuk kepada struktur logika yang berupaya untuk memperoleh nilai kebenaran. Rasa merujuk kepada struktur estetika yang berupaya untuk memperoleh nilai keindahan. Karsa merujuk kepada struktur etika yang berupaya untuk memperoleh nilai kebaikan. Cipta-rasa-karsa, logika etika estetika dan kebenaran-keindahan-kebaikan merupakan satu kesatuan yang dapat membuat kehidupan menjadi selaras, serasi dan seimbang seperti prasapa Sultan Agung dalam Serat Sastra Gendhing : mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi. Sebuah tertib sosial yang didukung oleh hubungan harmonis antara jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos). ajaran filsafat Jawa merupakan kontribusi yang berharga bagi perkembangan peradaban umat manusia.

Hubungan antara budaya dengan filsafat Jawa

Menurut Koentjaraningrat Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kusumohamidjojo memaknai kebudayaan dalam arti culture sebagai keseluruhan proses dialektik yang lahir dari kompleks perifikir, perijiwa, dan perinurani yang diwujudkan sebagai kompleks perilaku dan karya manusia dalam bentuk materialisasi (things), sebagai gagasan (ideas) yang diadaptasi, diterapkan, distandarisasikan, di-kembangkan, diteruskan melalui proses belajar, dan diadaptasikan dalam kehidupan bersama.

Kebudayaan menurut Ki Hadjar Dewantara dimaknai sebagai berikut. Kebudayaan berarti segala apa yang berhubungan dengan budaya, sedangkan budaya berasal dari perkataan budi yang dengan singkat boleh diartikan sebagai jiwa manusia yang telah masak. Budaya atau kebudayaan tidak lain artinya dari buah budi manusia. Di dalam bahasa asing kebudayaan itu dinamakan kultur dan diartikan pula sebagai buah budi manusia. Perkataan kultur itu berasal dari cultura dari bahasa Latin, perubahan dari colere yang berarti memelihara, memajukan serta memuja-muja. Perkataan kultur itu biasanya terpakai berhubungan dengan pemeliharaan hidup tumbuh-tumbuhan, pun juga berhubung dengan pemeliharaan hidup manausia (kebudayaan Jawa). Yang perlu diutamakan dalam segala soal kebudayaan atau kultur yaitu, bahwa di dalamnya tidak saja terkandung arti buah budi, tetapi juga arti memelihara dan memajukan. Dari sifat kodrati ke arah sifat kebudayaan. Itulah tujuan dari segala usaha kultural. Acapkali suatu bangsa itu hanya mementingkan sifat keindahan atau kemegahan yang terdapat pada suatu benda kebudayaan hingga lupa akan hubungan kebudayaan dengan masyarakat yang hidup pada suatu zaman.

Unsur-unsur kebudayaan yang ditemukan pada semua bangsa di dunia, terdapat tujuh unsur kebudayaan, yaitu: (1) bahasa, (2) sistem pengetahuan, (2) organisasi sosial, (4) sistem peralatan hidup dan teknologi, (5) sistem mata pencaharian hidup, (6) sistem religi, dan (7) kesenian. Pengertian, wujud, dan unsur kebudayaan sebagaimana dikemukakan di atas, dapat diberlakukan juga dalam kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa didasarkan atas peta kewilayahan yang meliputi seluruh bagian tengah dan timur dari pulau Jawa, dengan pusat kebudayaan wilayah bekas kerajaaan Mataram sebelum terpecah pada tahun 1755, yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Wujud dan unsur kebudayaan dapat dilihat dalam kekhasan budaya Jawa. Kamajaya (2007:84-85) menjelaskan bahwa kebudayaan Jawa adalah pancaran atau pangejawantahan budi manusia Jawa, yang merangkum kemauan, cita-cita, ide, maupun semangatnya dalam mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan lahir batin. Kebudayaan Jawa telah ada sejak zaman prahistori. Datangnya bangsa Hindu-Jawa dan dengan masuknya agama Islam dengan kebudayaannya, maka kebudayaan Jawa menjadi filsafat sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu-Jawa, dan Islam. Arif (2010:35) mengatakan filsafat menempatkan kebudayaan pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik.

Ciptoprawiro (1986: 11) berdasarkan definisi bahwa filsafat diartikan suatu pencarian dengan kekuatan sendiri tentang hakikat segala wujud (fenomena), yang bersifat mendalam dan mendasar, apa yang ada dalam banyak perenungan di Jawa yaitu suatu usaha untuk mengartikan hidup dengan segala pangejawantahannya, mansia dengan tujuan akhirnya, hubungan yang nampak dengan yang gaib, yang silih berganti dengan yang abadi, tempat manusia dalam alam semesta, adalah merupakan pemikiran filsafat. Memang dalam penelitian kesusasteraan Jawa belum jauh benar, namun sudah cukup jauh untuk menjadi dasar sebagai filsafat Jawa. Malahan tidak perlu mencari terlalu jauh dalam kesusasteraan Jawa untuk mendapatkan pemikiran filsafat Jawa, tetapi apa yang telah hidup di Jawa, tidak hanya yang hidup di kalangan para pengembang kebudayaan, melainkan di kalangan rakyat biasa, sudah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat. Ketenaran tokoh Wrekudara dalam mecari air hidup untuk memperoleh wirid ilmu sejati, merupakan suatu petunjuk betapa usaha ke arah pemikiran filsafat Jawa telah berakar dalam kehidupan orang Jawa.

Dasar-dasar filsafat Jawa

Ciptoprawiro (1986:12) menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang dalam antara sistem-sistem filsafat Barat dengan ungkapan-ungkapan renungan-renungan filsafat Jawa yang sering bersifat fragmentaris dan kurang nampak adanya hubungan yang jelas. Perbedaan utama antara filsafat Barat dan filsafat Timur, dalam filsafat Timur bukan menciptakan filsafat untuk filsafat itu sendiri. Pengetahuan senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, suatu langkah ke jalan menuju kelepasan atau bahkan mencapainya, satu-satunya jalan bagi manusia untuk sampai kepada tujuan akhirnya. Dalam filsafat Barat, tidak didapatkan pertentangan antara filsafat dan pengetahuan tentang Tuhan. Justru didapatkan dalam filsafat Timur bahwa kearifan tertinggi, yang merupakan puncak filsafat adalah pengetahuan tentang Tuhan, tentang yang Mutlak dan hubungannya dengan manusia. Rumusan filsafat Barat (Yunani) bahwa perkataan filsafat berasal dati bahasa Yunani philosophia yang berarti cinta kearifan (the love of wisdom), sedangkan filsafat Jawa, pengetahuan (filsafat) senantiasa hanya merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan, dapatlah dirumuskan bahwa di Jawa, filsafat berarti cinta kesempurnaan (the love of perfection). Dalam bahasa Jawa, filsafat Jawa adalah ngudi kasampurnan (berusaha mencari kesempurnaan), sedangkan filsafat Barat adalah ngudi kawicaksanan (mencari kebijaksanaan).

Berbeda dengan filsafat Barat, di mana cipta dilepaskan dari hubungan dengan lingkungannya, sehingga terjadi jarak antara manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan Barat mengidentifikasi aku (ego) manusia dengan ciptanya (rasio, akal). Maka, dapatlah dikatakan bahwa filsafat Barat menggambarkan manusia sebagai: manusia—lepas—hubungan. Bilamana Socrates menyebut manusia sebagai animal rationale, filsafat Timur umumnya beranggapan bahwa di dalam diri mauia terdapat sifat-sifat illahi.

Filosofi Jawa tentang kesempurnaan hidup atau ngudi kasampurnan dan asal dan arahnya yang ada atau ngelmu sangkan paraning dumadi dapat dilihat dalam Serat Centhini yang tercermin melalui tokoh utama Seh Amongraga (Wibawa, 2013:52-56). Nilai filosofis kesempurnaan hidup antara lain ditunjukkan oleh Seh Amongraga saat berdiskusi dengan Ki Bayi Panurta. Serat Centhini jilid V, Seh Amongraga menjelaskan kepada Ki Bayi tentang ilmu jisim jriyah kariyah, yaitu ilmu yang ada dalam semuanya. Jisim itu ada di dalam oral. Segala makhluk hidup itu sesungguhnya tidak mempunyai kekuasaan, seperti sampah dalam lautan tidak mungkin berharap menyatu. Gusti tetaplah Gusti, hamba tetaplah hamba, tidak bisa saling berganti.

Manusia percaya bahwa Hyang Agung tanpa arah tanpa tempat, tanpa bau warna tanpa rasa. Tanpa tempat tetapi bertempat yang tidak diketahui. Itulah mukmin, berkumpulnya ada dan tiada. Seh Amongraga menjelaskan tentang curiga manjing warangka‖ dan warangka manjing curiga‖. Itu adalah perlambang suksma masuk ke badan dan badan masuk ke suksma, itu adalah kesejatian shalat. Pada saat takbiratul ihram, di situlah menyatunya sukma ke badan dan badan ke sukma. Saat itulah menyatunya kehendak. Sebagai pintu masuk ke hati sanubari, dibuka dengan ikhram, mirat, munajad, tubadil, lestari maksudnya. Sukma ke badan. Dalam hal masuknya badan ke sukma, yaitu apabila sudah khusni dalam ikramnya shalat. Kusta daim ismu alim, lestari masuknya badan ke sukma. Sukma sudah bisa dikuasai oleh karena badan dapat memenuhi tuntutan sukma. Dasar-dasar filsafat Jawa dapat dilihat dari empat bangunan filsafat, yaitu metafisika, ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

  1. Metafisika dalam Filsafat Jawa

Metafisika berasal dai bahasa Yunani metata physika yang berarti hal-hal yang terdapat sesudah fisika. Metafisika adalah ilmu pengetahuan mengenai yang ada sebagai yang ada, yang dilawankan misalnya yang ada sebagai yang digerakkan atau yang ada sebagai yang dijumlahkan. Dewasa ini, metafisika digunakan baik untuk menunjukkan cabang filsafat pada umumnya maupun acapkali untuk menunjukkan cabang filsafat yang mempelajari pertanyaan-pertanyaan terdalam. Metafisika sering kali juga dijumlahkan, khususnya bagi mereka yang ingin menolaknya, dengan salah satu bagiannya, yaitu ontologi. Metafisika dapat didefinisikan sebagai bagian pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan mengenai hakikat yang ada yang terdalam. Pandangan tentang metafisika Jawa yang merupakan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam semesta juga diungkapkan oleh Koesbandriyo (2007:14-20) yang menyatakan bahwa metafisika Jawa mempunyai karakteristik: pertama, pengakuan tentang kemutlakan Tuhan, kedua, Tuhan yang transenden imanen di alam dan pada manusia, dan ketiga, alam semesta dan manusia merupakan satu kesatuan yang bisa disebut kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.

Ciptoprawiro (1986: 22-24) menjelaskan metafisika Jawa sebagai berikut: Ungkapan tentang ada (Ada semesta, Alam semesta) — Tuhan — Manusia—, dapat dianggap sebagai hasil pemikiran ataupun sebagai hasil pengalaman atau penghayatan manusia. Karena hasil ini dinyatakan berupa penuturan dengan kata (verbal) dan tersusun secara sistematis, maka dapat disebur filsafat dalam arti sempit. Ciri-ciri dasarnya adalah (1) Tuhan adalah ada semesta atau ada mutlak, (2) Alam semesta merupakan pangejawantahan Tuhan, dan (3) Alam semesta dan manusia merupakan suatu kesatuan, yang biasanya disebut kesatuan makrokosmos dan mikrokosmos.

Pemikiran filsafat bertolak dari eksistensi manusia dan alam-dunia sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca indera. Bukan dasar awal yang dicari dan dipertanyakan sepertiyang terjadi pada filsuf-filsuf Yunani, melainkan dari mana semua wujud ini atau dengan istilah sangkan paran, (1) sangkan paraning dumadi: awal —akhir alam semesta, (2) sangkan paraning manungsa: awal – akhir manusia, dan (3) dumadining manungsa: penciptaan manusia. Pencarian manusia akan berakhir dengan wikan, weruh atau mengerti sangkan paran. Fisafat Jawa sepanjang masa berkesimpulan bahwa Tuhan merupakan sangkan paraning dumadi dan manungsa, yang berarti (1) awal berarti berasal dari Tuhan dan (2) akhir berarti kembali kepada Tuhan. Usaha manusia untuk kembali pada asalnya atau Tuhan dilakukan baik dengan jalan jasmani maupun rohani, atau jalan lahir maupun jalan batin.

Pada bagian lain, Ciptoprawiro menjelaskan tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta sebagai berikut: (1) Tuhan: Tuhan tidak dapat dibayangkan seperti apa pun, dekat tiada bersentuhan, jauh tiada perbatasan, dat kang tan kena kinayangapa, cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Dalam rumusan Barat adalah imanen – transenden. Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama yang umumnya menggambarkan sifatnya, seperti Sang Hyang Taya, Wenang, dan Tunggal. (2) Manusia: unsur-unsur yang menjadi sarana kembali jasmani, kakang kawah, adhi ari-ari; air ketuban dan plasenta, lubang sembilan, dan panca indera. Rohani sedulur papat kalima pancer: empat saudra dan penuntun sebagai saudara kelima. Nafsu ada empat: mutmainah, amanah, lauwamah, dan supiah. Aku dengan kodrat kemampuan cipta, rasa, dan karsa. Pribadi (self) atau ingsun, sukma sejati, sebagai penuntun aku. Sukma sejati merupakan percikan Tuhan atau Sukma Kawelas. Kembali kepada Tuhan juga disebut pulang kepada asal: mulih — mula — mulanira. (3) Alam semesta (dunia): penuturan tentang penciptaan dunia (kosmogoni) dan gambaran dunia (kosmologi) berbentuk beraneka ragam dengan usnur-unsur budaya Hindu. Budha, dan Islam, yang sangat menonjol adalah susunan hierarkhi didalamnya.

  1. Ontologi

Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa ontologi merupakan bagian dari filsafat yang paling umum. Ontologi merupakan metafisika umum, yang mempersoalkan adanya segala sesuatu yang ada. Ontologi dalam filsafat Jawa, misalnya dapat dilihat dalam Serat Centhini yang berangkat dari kenyataan yang sungguh-sungguh ada. Hal itu dapat dilihat dari awal tujuan penulisan Serat Centhini. Dalam Serat Centhini jilid satu, disebutkan putera mahkota kerajaan Surakarta Kanjeng Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III memberi perintah kepada juru tulis Sutrasna, untuk memaparkan segala pengetahuan Jawa yang dapat digunakan sebagai induk (babon) semua pengetahuan Jawa (pangawikan Jawi) dalam gubahan cerita yang dituangkan dalam bentuk tembang.

Dalam saduran Serat Centhini jilid satu, menyebutkan jenis pengetahuan Jawa antara lain mengenai hal ikwal yang bertalian dengan agama, mengenai beraneka ilmu: kebatinan, kekebalan, perkerisan, perumahan, dan pertanian; berbagai kesenian: kesusasteraan, karawitan, dan tari; bermacam primbon: perhitungan baik buruk hari atau waktu berjampi-jampi; berbagai jenis masakan makanan; adat istiadat dan cerita yang bertalian dengan peninggalan bangunan kuna setempat, dan sebagainya. ―Mengingat luasnya pengalaman jasmani dan rohani yang dipaparkan dalam Serat Centhini, sudah pantas kita menyebutnya sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa, yang sebagian besar mengandung kenyataan yang masih terdapat pada masyarakat Jawa dewasa ini‖ (Darusuprapto, 1991:v). Apa yang tertulis dalam Serat Centhini merupakan realitas kehidupan masyarakat pada saat Serat Centhini itu ditulis, yaitu sekitar tahun 1814 Masehi. Serat Centhini merupakan bagian dari karya sastra yang menggambarkan realitas kehidupan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan Rene Wellek dan Austin Warren (1989:109) bahwa sastra menyajikan kehidupan, dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga meniru alam dan dunia subjektif manusia.

  1. Epistemologi

Epistemologi merupakan bagian atau cabang filsafat. Salah satu cabang filsafat tentang pengetahuan adalah logika yang memuat logika formal yang mempelajari asas-asas atau hukum-hukum memikir, yang harus ditaati supaya dapat berfikir dengan benar dan mencapai kebenaran serta logika material atau kritika (epistemology) yang memandang isi pengetahuan, bagaimana isi ini dapat dipertanggungjawabkan, mempelajari sumber-sumber dan asal ilmu pengetahuan, alat-alat pengetahuan, proses terjadinya pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan dan batas pengetahuan, kebenaran dan kekeliruan, metode ilmu pengetahuan, dan lain-lain.

Ciptoprawiro (1986) menjelaskan metode untuk memperoleh pengetahuan dalam filsafat Jawa denan tahapan cipta – rasa – karsa, melalui tingkatan kesadaran, (1) kesadaran panca inderawi atau aku (ego consciousness), (2) kesadaran hening manunggal dalam cipta-rasakarsa, (3) kesadaran pribadi (ingsun, Sukma Sejati): manunggal aku-pribadi (self consciousness), dan (4) kesadaran Illahi: manungal aku—pribadi—Sukma Kawelas. Pada tingkat mutakhir terjadi manunggal subjek-objek, sehingga diperoleh pengetahuan mutlak atau kawicaksanan, kawruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan. Ketiga kemampuan cipta-rasa-karsa ini dalam kehidupan sehari-hari diusahakan dapat bersatu untuk diwujudkan dalam kata dan karya, ucapan, dan perbuatan. Penggunaan yang dihayati lebih mendalam dari cipta, yaitu rasa dan rasa sejati, yang digambarkan sangat baik dalam budaya Jawa. Dalam pergaulan digunakan dua atau tingkat bahasa, ngoko untuk sesama, krama dan krama inggil untuk menyapa mereka yang dianggap lebih tinggi, baik dalam usia maupun fungsi masyarakat.

  1. Aksiologi

Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut kefilsafatan. Aksiologi dari kata Yunani axios yang berarti bernilai, berharga dan logos berarti kajian tentang. Analisis atas nilai-nilai untuk menentukan makna, ciri, asal mula, corak, ukuran, dan kedudukan epistemologinya.

Ciptoprawiro menjelaskan aksiologi dalam filsafat Jawa dalam estetika dan etika. Dalaam estetika Jawa, dijelaskan (1) pada jaman Jawa-Hindu, keindahan selalu dianggap sebagai pangejawantahan dari yang Mutlak, maka semua keindahan adalah satu, dan (2) pada jaman Jawa-Islam, dalam kesusasteraan Suluk diperpadat duapuluh sifat dan sembilan puluh sembilan nama indah (asma‘ul husnah) Allah menjadi empat sifat, di mana keindahan dimasukkan Agung berarti Jalal, Elok berarti Jamal (Indah), Wisesa berarti Kahar (Kuasa), dan Sempurna berarti Kamal. Dalam etika Jawa dipermasalahkan adanya baik buruk yang mempengaruhi perilaku manusia dan yang berhubungan dengan Tuhan. Dalam filsafat Jawa, baik buruk dianggap tidak terlepas dari eksistensi manusia yang terjelma di dalam pelbagai

keinginan dan dikaitkan dengan empat nafsu: mutmainah, amanah, lauwamah, dan supiah. Keinginan baik (mutmainah) akan selalu berhadapan dengan keinginan buruk (amarahlauwamah- supiah) untuk menjelmakan perilaku manusia. Dengan asumsi bahwa tujuan hidup manusia adalah kesempurnaan, yang akan terjelma sifat Illahi dengan tercapainya manunggaling kawula-Gusti, maka pertentangan baik buruk akan diatasi dengan peningakatan kesadaran, yang juga disebut kadewasan jiwa (kedewasaan jiwa manusia). Kesusilaan tidak terlepas dari laku dalam perjalanan kesempurnaan. Tingkat kedewasaan manusia akan membentuk watak yang menentukan laku susilanya. Hal itu digambarkan dalam simbolik wayang dengan watak pendeta, pendhita ratu, satriya, diyu (yaksa), cendhala. Tingkat kedewasaan dan watak manusia tidak hanya dapat diperoleh dengan usaha sendiri sewaktu hidupnya, melainkan juga diperoleh sejak lahirnya.

Kusbandrijo (2007:35-37) juga menjelaskan bahwa dalam etika dipermasalahkan adanya baik buruk yang mempunyai perilaku manusia yang juga berhubungan dengan adanya Tuhan. Dalam filsafat Jawa baik buruk dianggap tidak terlepas dari eksistensi manusia yang terjelma di dalam perbagai keinginan dan dikaitkan dengan empat sifat nafsu, yaitu lauwamah, amarah, sufiah, dan mutmainah. Keinginan baik (mutmainah) akan selalu berhadapan dengan keinginan buruk (amarah-lauwamah-sufiah) untuk menjelmakan perilaku manusia. Tujuan hidup manusia untuk mencapai kesempurnaan yang akan menjelma sifat Illahi dengan tercapainya manunggaling kawula Gusti, maka pertentangan baik buruk akan diatasi dengan kesadaran yang disebut kadewasaan jiwa manusia atau manusia yang bijaksana. Kesusilaan tidak terlepas dari laku dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Tingkat kedewasaan manusia akan membentuk watak yang akan menentukan laku manusia.

Advertisements