Agama Islam tersebar di Asia Tenggara dan di Kepulauan Indonesia sejak abad XII dan XIII. Disejumlah daerah yang telah berabad-abad memeluknya, nama mereka yang dianggap berjasa menyebarkan agama itu disebut dengan hormat dan khidmat. Masuk Islamnya berbagai suku bangsa di kepulauan Indonesia ini tidak berlangsung dengan jalan yang sama. Suatu kenyataan yang sudah pasti ialah, di Sumatra Utara – di Aceh yang sekarang ini – para penguasa di beberapa kota pelabuhan penting sejak paruh kedua abad XIII sudah menganut Islam. Pada zaman ini hegemoni di Jawa Timur masih di tangan raja-raja beragama Syiwa dan Budha di Kediri dan Singasari, di daerah pedalaman. Ibu kota Majapahit – yang sangat penting pada abad XIV – pada saat itu belum berdiri. Sebaliknya besar kemungkinan bahwa pada abad XIII di Jawa sudah ada orang-orang Islam yang menetap disana. Sebab, jalan pedagang di laut,yang menyusuri pantai timur Sumatra melalui Laut Jawa ke Indonesia bagian timur, sudah di tempuh sejak zaman dahulu. Para pelaut itu, baik yang beragama Islam maupun tidak, dalam perjalanan banyak yang singgah di banyak tempat. Pusat-pusat pemukiman di pantai utara Jawa ternyata sangat cocok untuk itu (H. J. De Graff & Th. Pigeaut, 1985 : 20-21).

Asal mula Islam di Jawa masih belum jelas benar, tetapi agama ini jelas sudah memiliki penganut di pulau ini sebelum akhir dari zaman Majapahit. Pada tahun 1416, Ma Huan, sekretaris Zheng He, seorang admiral besar Dinasti Ming, menulis tentang tiga jenis orang Jawa : orang-orang Islam dari Barat, orang-orang Cina (sebagian beragama Islam), dan orang-orang pribumi, yang dengan seenaknya digambarkannya sebagai orang-orang liar yang mempercayai setan-setan. Bukti arkeologis memberikan gambaran yang agak lengkap tentang keadaan ini. Nisan Islam tertua yang didapati di Jawa memiliki tahun 1419, orang yang di makamkan itu bernama Malik Ibrahim, dilahirkan di Persia dan barangkali berlayar ke Jawa sebagai saudagar. Tetapi Islam tidak terbatas hanya di daerah pantai. Nisan-nisan di Tralaya, di lingkungan Kraton Majapahit, menunjukan bahwa keberadaan orang-orang Jawa yang beragama Islam di pusat kerajaan Jawa-Hindu itu sudah sejak 1298 TJ (1376 M), selama kekuassaan raja besar Hayam Wuruk. Semua nisan di Trowulan dalam tahun 1370 TJ (1448 M) menandai kuburan seorang pembesar Islam yang secara tradisional dipercayai sebagai seorang Ratu Majapahit. Dalam tradisi Jawa dia bernama Putri Cempa, putri dari Campa, dan salah satu istri dari Raja Majapahit terakhir, Brawijaya ( Merle C. Ricklefs, 1974 : 3).

Penyebaran Islam di Jawa masih belum dapat disimpulkan dengan pasti oleh para ahli – dengan kesukaran dalam menyimpulkan dari bukti-bukti yang ada – sehingga masih menimbulkan pertanyaan yang penuh dengan spekulasi. Namun untuk memperkuat pendapat H. J. De Graff, dapat dipastikan bahwa orang Islam sudah ada sejak abad XII dengan ditemukannya makam-makam Islam, pertama terdapat makam fatimah Binti Maimun, yang meninggal 7 rajab 457 H (1082); dan kedua, makam Malik Ibrahim, yang meninggal pada tanggal 12 Rabiulawal 822 H (1419). Islam tersebar di Jawa sedikit demi sedikit selama beberapa abad. Peran para saudagar Islam tentunya sangatlah penting, mereka mengawini perempuan-perempuan Jawa yang kemudian masuk Islam, sehingga terbentuklah sebuah pemukiman-pemukiman Islam. Para ahli sebagian besar menggunakan dugaan tersebut dalam menentukan proses penyebaran Islam di daerah pantai-pantai Jawa yang tampaknya tidak begitu kuat terpengaruh oleh Hindu-Budha kerajaan pra-Islam di Jawa.

Dari permulaan agama Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang, dan buruh di bandar-bandar (hal ini terjadi hampir dimana-mana pun agama Islam berkembang, lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut menyebarkan agama Islam diantara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan dalam agama antar bangsa itu, yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan suku diantara para pemeluknya, ternyata menarik para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya serta beragam adat istiadat dan cara hidupnya. Dalam pergaulan hidup masyarakat golongan menengah yang berdagang ini, Agama Islam yang memajukan sama rata itu menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum Islam. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal halangan berdasarkan perbedaan, keturunan, golongan, dan suku, merupakan pembaharuan besar dalam pergaulan hidup yang terpecah-pecah. Di Jawa sendiri beberapa gambaran mengenai penyebar Islam memberikan petunjuk bahwa mereka adalah golongan menengah kaum pedagang itu. Sunan Giri pada masa mudanya adalah anak angkat Nyai Gede Pinatih, wanita kaya di Gresik, Sunan Giri sendiri berlayar untuk urusan dagang ke Kalimantan Selatan (Babad Gresik, hlm 23). Dengan adanya solidaritas Islam kaum pedagang, buruh-buruh di bandar dan golongan menengah Jawa menimbulkan munculnya kota-kota bandar. Dimana pun kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam, masjid niscaya akan segera dibangun; itu merupakan suatu keharusan. Masjid menduduki tempat penting dalam kehidupan masyarakat, merupakan pusat pertemuan orang beriman dan menjadi lambang kesatuan jemaat (H. J. De Graff & TH. Pigeaut, 1985 : 28-29).

Hal semacam ini juga digambarkan oleh Tome Pieres dalam bukunya, Suma Oriental, mengenai timbulnya kekuatan-kekuatan Islam yang ada di Jawa saat itu, bahwa perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang Islam terjadi dengan dua cara :

Pertama : Bangsawan Jawa yang kafir dengan sukarela memeluk agama baru itu; di tempat-tempat mereka memperoleh kekuasaan (dan tetap berkuasa), pedagang Islam dipandang sangat terhormat. Demikian juga para cendekiawan agama Islam yang tinggal dirumah para pedagang.            

Kedua : orang asing yang beragama Islam, dari bermacam-macam bangsa – bertempat tinggal di perkampungan tersendiri di bandar-bandar – membuat rumah mereka menjadi kubu pertahanan; dari tempat-tempat itulah mereka menyerang perkampungan orang kafir; akhirnya mereka merebut seluruh pemerintahan bandar (Tome Pieres, terj, 2014).

Deskripsi Tome Pieres telah memperkuat asumsi bahwa kalangan pedagang-pedagang Islam sangat berperan penting dalam penyebaran Islam di Jawa. mereka mengawini wanita-wanita pribumi dan membawa mereka ke dalam pengaruh Islam, dan hasil dari penyatuan-penyatuan semacam itu telah menghasilkan pemukiman yang baru sehingga memunculkan kelompok-kelompok masyarakat Muslim. Legenda tentang para pendakwah sudah menjadi gambaran tersendiri mengenai posisi mereka yang tampak mendapat tempat baik di tengah masyarakat. Mereka sangat dihormati dan terlihat begitu dekat dengan masyarakat, di sisi lain hubungan-hubungan mereka dengan Bangsawan Jawa menambah kedudukan mereka yang begitu mendapat kesempatan luas dalam menebar pengaruh Islam di Jawa.

Di pusat kultural Jawa tengah dan Timur para saudagar Islam yang selalu berkeliling tampaknya hanya bisa menarik penganut-penganut Islam baru dari kalangan masyarakat kelas rendah saja. Di daerah-daerah tersebut para pendakwah di kalangan elite mungkin adalah mereka yang tergabung dalam persaudaraan Sufi (Tariqah), yang mungkin juga ada hubungannya dengan serikat-serikat dagang Islam. Namun tidak terdapat bukti yang tegas untuk mendukung dugaan ini. Pemahaman Sufi yang kurang keras itu mungkin menjadikan agama baru ini lebih mudah diterima oleh elite Jawa, yang sudah terbiasa dengan agama yang didasarkan pada animisme pra-Hindu yang kompleks sehingga pada tingkat sosial yang lebih tinggi dipengaruhi oleh filsafat Hinduisme dan Buddhisme dari India. (Merle C. Ricklefs, 1974 : 4)

Tradisi Jawa menyebut para pemimpin awal Islam itu wali, para wali yang terkenal dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa berjumlah sembilan (wali sanga). Namun barangkali memang keliru jika memandang para wali ini sebagai pendakwah jalanan seperti yang dikemukakan oleh Merle C. Ricklefs, karena disisi lain dia juga memandang para wali tampak seperti kaum mistik yang memberikan pelajaran-pelajaran kepada kelompok kecil murid-murud terpilih, yang tertarik mengikuti mereka untuk memperdalam ilmu keagamaan dan juga tidak jarang kesaktian. Banyak dari para wali sembilan yang asal susulnya bukan dari Jawa dan sering dihubung-hubungkan dengan kota-kota pelabuhan tertentu di pesisir pulau Jawa.

Salah seorang yang paling terkenal dan tertua diantara para wali di Jawa – dicatat dalam semua legenda orang saleh – ialah Raden Rahmat dari Ngampel Denta. Ia di beri nama sesuai dengan nama kampung di Surabaya tempat ia dimakamkan; mungkin ia juga pernah tinggal disana. Menurut cerita Jawa, ia berasal dari Cempa. Tampaknya beberapa babad dan hikayat menceritakan tentang hubungan darah Raden Rahmat dengan Putri Cempa – istri dari Raja Majapahit Brawijaya – yang dijelaskan bahwa Putri Cempa mempunyai saudara perempuan yang menikah dengan orang Timur Tengah bernama Maulana Ibrahim Asmara putra dari Syekh Jumadil Kubra, dari pernikahan itu mereka mempunyai dua putra yaitu Sayid Ngali Murtala dan Sayid Ngali Rahmat (Raden Rahmat). Dikisahkan kedua putra tersebut bertolak ke Jawa dengan diikuti sepupunya seorang sarjana, Abu Hurerah (Raden Burereh) namanya, konon ia merupakan seorang putra raja di Cempa. Bertiga mereka mengunjungi Jawa untuk mengunjungi bibi mereka, Putri Cempa. Menurut Hikayat Hasanudin, Sayid Ngali Murtala (disebut sebagai Raja Pandita) diangkat menjadi imam di masjid yang terletak di tanah milik Tandes (seorang kakek di Gresik). Disana ia menjadi tokoh penting, dan Raden Rahmat diangkat menjadi panca tanda (sebuah jabatan dalam birokrasi Majapahit), dengan gelar Arya Sena, sebagai imam di Surabaya. Ia menjadi sangat terhormat dilingkungannya (H. J. De Graff & TH. Pigeaut, 1985 : 21-22).

Kerajaan yang bernuansa Hindu-Budha terbesar di Jawa, Majapahit, tampaknya juga menjunjung tinggi toleransi beragama, jika Agama Hindu dan Budha dapat di terima dalam satu kerajaan maka kemungkinan besar Islam juga dapat diterima di dalam kerajaan tersebut meski tidak terlalu mendominasi. Jika penerimaan dengan baik bagi para pendakwah ini – bahkan tidak jarang diberi jabatan – terjadi dalam kerajaan besar pra-Islam tersebut, tentunya sangat membuka jalan penyebaran pengaruh Islamisasi di Jawa yang lebih luas. Dengan penjelasan di atas cukup membuktikan bahwa para wali bukan sekedar pendakwah keliling.

Kesusastraan Jawa abad XVII dan XVIII mengenal banyak cerita tradisional mengenai para wali, dikisahkan kehidupan, mengenai mukzizat, dan keyakinan mereka di bidang mistik Islam dan teologi. Mula-mula Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa – dengan raja pertama yang masih mempunyai hubungan waris dengan kerajaan Majapahit – masyarakat menganggap para wali adalah yang paling berjasa di dalam perkembangan kerajaan ini. Wali-wali di Jawa ini dikabarkan berpusat di masjid keramat Demak, masjid yang mereka dirikan bersama. Disitulah mereka agaknya mengadakan pertemuan untuk bertukar pikiran tentang mistik atau disebut musyawaratan. Dalam kerajaan Islam Demak keberadaan masjid sangatlah penting, legenda para wali yang sering dihubung-hubungkan dengan Masjid Demak menunjukan penghormatan masyarakat terhadap masjid tersebut, bahkan setelah keruntuhan Demak masjid tersebut masih menjadi pusat kehidupan beragama di Jawa Tengah.

Cerita-cerita tradisi masyarakat mengungkapkan betapa pentingnya Masjid Demak di alam pikiran orang Jawa Islam pada abad XVII, XVIII, dan XIX. Masjid Demak telah menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah. Raja-raja Demak yang lebih senang disebut dengan orang agama daripada penguasa membuktikan semangat mereka dalam memperluas pengaruh Islam, dalam politik ekspansi mereka – telah memasuki wilayah Jawa Barat, Tengah, dan Timur – selalu dibarengi dengan dakwah agama. Sehingga kemungkinan besar raja-raja Demak telah menganggap Masjid Demak sebagai simbol kerajaan Islam mereka. bahkan masjid Demak sangat penting dalam dalam dunia keislaman Jawa pada abad-abad berikutnya. Cerita tradisi sejarah Banten (Edel, Hasanuddin) memuat kisah tentang imam-imam masjid Demak pada perempat terakhir abad XV dan dalam perempat pertama abad XVI. Dalam cerita tradisi tersebut membuktikan bahwa pada zaman itu masjid beserta pengurusnya sangat terpandang (H. J. De Graff & Th. Pigeaut, 1985 : 36).

Begitu pentingnya keberadaan masjid pada kerajaan Islam pertama yang berdiri di Jawa tersebut tampak membentuk sebuah tradisi didalam kerajaan-kerajaan Islam abad-abad berikutnya, dalam setiap pendirian kraton Islam bangunan masjid tampak selalu berada pada posisi yang tidak dapat ditinggalkan. Beberapa kerajaan Islam setelah keruntuhan Demak juga mendirikan masjid sebagai bangunan penting yang tidak sekedar sebagai pelengkap dalam struktur penataan bangunan istana, tampaknya sudah menjadi sebuah keharusan ketika dimanapun kerajaan Islam berdiri masjid agung dibangun sebagai penunjang sebuah pemerintahan. Pergolakan politik yang ada di Demak sehingga berakhir dengan perpindahan kekuasaan dari pesisir ke daerah pedalaman – sebagai pusat kultural lama di Jawa Tengah – serta kemelut politik pada abad-abad berikutnya tentu tidak akan dibahas secara mendalam disini. Berbagai naskah telah mengkisahkan mengenai kematian Susuhunan Prawata, raja Demak yang menggantikan Sultan Trenggana, yang menimbulkan subordinasi politik Sultan Hadiwijaya yang bertakhta di Pajang dengan Arya Penangsang penguasa dari Jipang Panolan, berakhir dengan kemenangan Sultan Hadiwijaya yang menandai perpindahan kekuasaaan dari Demak ke Pajang.

Kerajaan Islam lainnya di Jawa yang besar dan berpengaruh adalah Mataram Islam. Pada awalnya merupakan daerah yang berada di bawah kekuasaan Pajang. Dikisahkan Danang Sutawijaya – mendapat gelar Senapati Ing Ngalaga di Kerajaan Pajang atau sering disebut sebagai Panembahan Senapati – yang menggantikan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, yang memperoleh bagian dari Sultan Pajang di Hutan Mentaok dan berkuasa disana, telah memerdekakan diri. Setelah kematian Sultan Pajang dan kemelut politik setelahnya menjadikan Pangeran Benawa bertakhta atas Pajang. Untuk pertama kalinya tercatat dalam sejarah abad XVI kekuasaan kerajaan Islam Jawa terbagi menjadi dua, Mataram dan Pajang, sebagai dampak dari penguatan hegemoni pusat kekuasaan regional yang ditegakkan di Mataram. Tampaknya Pangeran Benawa adalah raja yang bersimpatik dengan Panembahan Senapati, dengan sukarela dia mengakui kekuasaan Mataram yang juga berarti bahwa Mataram telah memiliki kekuasaan mutlak atas Jawa, meski beberapa daerah belum mengakui kekuasaannya sehingga Mataram harus melakukan penaklukan-penaklukan di beberapa daerah. Namun mengenai ekspansi politik dan pergolakan Mataram yang berakhir dengan perpindahan serta terbaginya kerajaan tidak dibahas dalam tulisan ini

Tidak ditemukan cerita tutur Jawa yang valid mengenai kegiatan budaya di daerah Mataram selama Pemerintahan Ki Pamanahan dan anaknya, Panembahan Senapati. Pada paruh kedua abad XVI di istana Kerajaan Pajang terdapat kegiatan sastra, tasawuf, agama dan seni bangunan yang mula-mula timbul di daerah sepanjang pantai utara Jawa dan di Jawa Timur. Tetapi, pengaruh kebudayan Pajang kelihatannya tidak terasa di keraton para penguasa pertama Mataram, mungkin karena perhatian mereka sepenuhnya tercurah pada soal-soal materil, pengolahan tanah, dan penggarapan daerah yang tandus, disamping penanaman kekuassaan politik. Baru saja merdeka yang ketiga di Mataram, yang akan terkenal sebagai Sultan Agung (1613-1646), mulai berusaha menaikan martabat keraton di bidang kebudayaan, sesuai dengan kedudukannya sebagai istana raja (H. J. De Graff & TH. Pigeaut, 1985 : 262).

Sebagai kerajaan Islam besar di Jawa tentunya Mataram juga membangun sebuah masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan. Masjid Agung Mataram digunakan sebagai pusat pengembangan keislaman di Jawa bagian Selatan. Bangunan Masjid Mataram menyerupai bangunan Hindu, tampaknya menyesuaikan dengan lingkungan Jawa Pedalaman yang masih cukup banyak penganut agama Hindu-Budha, gerbang masuk pada Masjid Mataram terdapat gapura berbentuk paduraksa menyerupai tempat peribadatan Umat Hindu. Dikisahkan ketika Mataram sudah berpindah ke Kartasura dan kemelut politik yang terjadi pasca perpindahannya sehingga membuat Mataram terbagi-bagi dalam beberapa kerajaan, masjid ini masih tetap dipergunakan sebagaimana fungsinya dalam upacara-upacara pemerintahan. Setiap putra mahkota dari Keraton Surakarta yang akan naik takhta – meski keraton berdiri di wilayah yang jauh dari Masjid Agung Mataram – menurut tradisi pelantikan raja baru tersebut dilakukan di Masjid Agung Mataram. Di halaman masjid ini terdapat sebuah bangunan semacam tugu dengan jam di bagian atasnya yang dibangun oleh Susuhunan Pakubuwana X, yang menggambarkan bahwa Masjid Mataram sangatlah berarti bagi simbol kekuasaan Wangsa Mataram hingga generasi penerusnya.

IMG_0963
Tugu berwarna hijau berada di halaman Masjid Agung Mataram dibangun oleh Susuhunan Pakubuwana X

Sebagai kerajaan penerus yang memegang kendali atas kekuasaan Dinasti Mataram, Keraton Surakarta dan Yogyakarta, didalam struktur penataan bangunan istana juga tampak terdapat masjid agung di masing-masing kerajaan. Masjid agung yang dibangun di kedua kerajaan ini tampaknya mengikuti tradisi yang ada di Kerajaan Demak, di depan bangunan masjid agung terdapat alun-alun, semacam tanah lapang yang luas yang digunakan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan keagamaan, yang tidak dapat dilepaskan dari peran masjid tersebut sebagai pusat kegiatan tradisi keagamaan di kerajaan. Hingga saat ini tradisi keagamaan masih tetap dilaksanakan di Keraton Surakarta dan Yogyakarta ini, yang terdiri dari : Sekatenan, Garebeg, Malam Selikuran, dan peringatan satu sura (Muharam), dengan rincian sebagai berikut dibawah ini.

  1. Sekaten yang merupakan peringatan hari lahirnya Nabi Muhamad S.A.W. dilangsungkan setiap tanggal 12 Rabi-ngul-awal/Robi’ul Awal. Sekaten sendiri berasal dari kata sekati yang berarti setara, yaitu bermaksud untuk menimbang hal-hal bersifat baik dan buruk. Juga bersal dari syahadat-ain (berdasarkan tafsir ketauhidan), dan berarti meyakini dua perkara, yaitu pertama ;yakin kepada Allah SWT (Syahadat Tauhid), dan kedua : yakin dan dan percaya kepada Nabi Muhamad sebagai utusan Allah (Syahadat Rassul), sebagaimana seharusnya dalam ajaran agama Islam.
  2. Upacara Garebeg dilangsungkan setelah acara sekaten yang dilaksanakan selama tujuh hari. Acara penutupnya berupa upacara garebeg ini berintikan pemberian sedekah dari Raja kepada rakyat atau kawulanya, sering pula disebut dengan peparing (Ind: memberi, hadiah) yang disimbolkan dengan Gunungan. Garebeg sendiri berasal dari kata Ginarebeg, berarti raja berjalan dengan diiringi oleh ratusan orang. Upacara ini biasanya juga dihubungkan dengan hari-hari besar, seperti Maulud Nabi.
  3. Upacara malem selikuran atau malam 21 merupakan acara hajat-dalem maleman, yaitu selamatan Rosulan Malam Lailatul Qadar, atau malam kemuliyaan di Bulan Puasa atau Ramadhan
  4. Peringatan satu Sura atau satu Muharam, berisikan mengenang kembali hijrah Nabi Muhamad S.A.W. yang juga memperhatikan adanya hari Asyura (Ind; kesepuluh), yaitu mengingatkan tanggal 10 Bulan Muharam bagi Umat Islam yang disunatkan untuk berpuasa (A. M. Hadisiswaya, 2011 : 32-33).

Daftar Pustaka

Hadisiwaya, A.M. 2011. Pergolakan Raja Mataram. Yogyakarta :Interprebook

Graff, H.J.de, dan Pigeaut, Th. Terj. 1985. Kerajaan Islam Pertama Di Jawa. Jakarta : Grafiti

Ricklefs, Merle C. Terj. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi. Yogyakarta : Mata Bangsa

Tome Pires, terj. 2014. Suma Oriental. Yogyakarta : Ombak

Advertisements